h1

Pluralisme sebagai Paham yang Bertentangan dengan Ideologi Pancasila

May 2, 2012

Masalah kebebasan beragama di Indonesia sangat menarik untuk didiskusikan terutama setelah pluralisme (agama) gencar dikampanyekan. Fatwa-fatwa MUI terkait dengan aliran-aliran (yang dianggap) sesat dipermasalahkan pendukung paham ini karena dianggap memberangus kebebasan beragama.

Prof. Dawam Rahardjo misalnya berpandangan bahwa dalam masyarakat yang majemuk, otoritas (pemerintah atau MUI) tidak berhak menyatakan suatu agama itu salah atau sesat dan menyesatkan seperti yang selama ini dituduhkan kepada Ahmadiyah. Semua agama harus dianggap benar, yaitu benar menurut keyakinan pemeluk agama masing-masing. Pandangan ini tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Kala MUI Mengharamkan Pluralisme”.

Semangat pluralisme seperti yang digambarkan di atas dianggapnya sebagai hal yang mendasari Pancasila, dan tersimpul dalam istilah ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Pandangan senada juga tercermin dalam tulisan Airlangga Pribadi yang berjudul “Pluralisme sebagai Benteng Republik”. Dalam tulisan yang dimuat di harian ‘Kompas’ itu, pluralisme dianggapnya sebagai batang tubuh dari keindonesiaan kita yang telah digemakan salah satunya oleh Soekarno. Pluralisme dikesankan sebagai paham yang sejalan dengan ideologi Pancasila.

Pandangan kedua penulis tersebut mungkin mewakili pandangan sebagian besar pendukung pluralisme di Indonesia. Rasanya, tidak pernah terdengar ada pendukung pluralisme yang menentang Pancasila secara terbuka seperti ketika mereka menentang fatwa-fatwa MUI seperti dimaksud di atas. Artinya, pluralisme tidak dianggap sebagai ancaman bagi Pancasila.

Padahal pluralisme jelas bertentangan dan menjadi ancaman bagi Pancasila. Dengan pemikiran bahwa semua agama harus dianggap benar, maka dalam pluralisme tidak boleh ada agama yang dianak-emaskan atau dianak-tirikan atau dianggap sesat. Semua agama, termasuk (aliran) agama yang (dianggap) sesat seperti aliran Ahmadiyah, kelompok Salamullah (Lia Eden), Persekuan Doa Sion Kota Allah, Children of God atau bahkan Church of Satan sekalipun tidak boleh diperlaskukan berbeda atau dihambat perkembangannya. Perkara apakah agama itu adalah agama monotheisme atau bukan, tidak relevan dipersoalkan.

Pemikiran seperti itu tidak mungkin diterapkan di Indonesia selama negara ini masih berpegang pada Pancasila. Salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari Pancasila adalah monotheisme. Artinya, melalui Pancasila (yang dikuatkan juga oleh pasal 29 ayat 1 UUD 1945), republik ini telah ditetapkan sebagai negara monotheisme.

Konsekuensi sebagai negara monotheisme adalah hanya agama-agama (yang dianggap) monotheisme saja yang dapat diakui. Agama-agama non-monotheisme tidak diakui meskipun kepada agama lokal yang telah eksis jauh sebelum masuknya agama-agama yang diakui. Sejauh ini pemerinah hanya mengakui 6 agama saja, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Chu.

Agama-agama yang telah diakui ini mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Hal ini diatur dalam pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dengan berlakunya pasal tersebut, setiap orang dilarang melakukan penafsiran atau kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang diakui. Melakukannya dapat dianggap menodai agama, di mana pelakunya diancam pidana 5 tahun penjara. Dan jika pelanggaran dilakukan oleh organisasi, maka pemerintah berhak membubarkannya. Dengan begitu keberadaan aliran-aliran (yang dianggap sesat) memang (seharusnya) tidak ditolerir. Ditangkapnya Pendeta Mangapin Sibuea, Nimrot Lasbau, Lia Eden atau juga Ahmad Moshadeq membuktikan hal tersebut.

Pemikiran yang berseberangan dengan semangat pluralisme seperti di atas pertama kali diterapkan dengan memberlakukan Penetapan Presiden Republik Indonesia nomor 1/PNPS tahun 1965 tentang penyalah-gunaan dan/atau penodaan agama. PNPS yang ditetapkan oleh Soekarno ketika menjabat sebagai presiden itu menjadi bukti yang valid bahwa beliau memandang Pancasila sebagai ideologi yang harus mengedepankan monotheisme, bukan pluralisme dan kebebasan beragama.

Kebebasan beragama yang dijamin dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945, tidak dapat ditafsirkan berdiri sendiri dan harus dikaitkan dengan ideologi (Pancasila) dan ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa negara berdasar pada monotheisme. Karena itu, jaminan kebebasan beragama yang dimaksud dalam pasal tersebut sebenarnya hanya berlaku bagi agama-agama yang diakui saja. Artinya, kebebasan beragama di Indonesia memang dibatasi yang merupakan konsekuensi sebagai negara monotheisme.

Ditolaknya permohonan pendukung pluralisme yang mengajukan PNPS ini ke Mahkamah Konstitusi untuk dilakukan Judicial Review (lihat Putusan Mahkamah Konstitusi No. 140/PUU-VII/2009 tentang permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 1/PNPS/Tahun 1965) semakin membuktikan bahwa Pancasila tidak kompatibel dengan pluralisme. Hal ini setidak-tidaknya diakui oleh Saidiman Ahmad dalam tulisannya yang berjudul “Potret Buram Kebebasan Beragama” yang dimuat dalam situs JIL. Baginya, Pancasila sudah bermasalah dari semula dengan mencantumkan sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ yang dianggapnya diskriminatif dan membatasi kebebasan beragama.

Dengan begitu jelas terlihat bahwa Pancasila dan pluralisme adalah dua ajaran yang saling bertentangan dan tidak mungkin dapat disandingkan. Pluralisme hanya dapat diterapkan jika Pancasila ditinggalkan. Karena itu, anggapan bahwa pluralisme itu sejalan dengan Pancasila adalah hal yang tidak berdasar.

Menerima Pancasila berarti menerima kondisi yang tidak mendukung pluralisme. Selama Pancasila masih diakui sebagai ideologi dan dasar negara, maka gembar-gembor tentang pluralisme dan kebebasan beragama sebenarnya hanya omong kosong belaka. Sebaliknya jika pluralisme benar-benar menjadi pilihan bangsa ini, maka Pancasila yang membatasi kebebasan beragama sudah tidak relevan lagi sebagai ideologi. Karena itu, selama Pancasila masih diakui sebagai ideologi negara, maka seharusnya pluralisme menjadi paham yang terlarang.

About these ads

2 comments

  1. berkat desain yang sempurna


  2. Blog ini hebat. Ada sering semua info yang sesuai pada saran dari jari-jari saya. Terima kasih dan memelihara pekerjaan yang unggul!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: