h1

Maaf Ma … Pa … Saya Hamil …

January 7, 2009

Hmmm … bayangkan jika tiba-tiba omongan itu meluncur dari anak gadis anda … apa yang anda rasakan … ? … Mungkin campur aduk yah … sedih … marah … kecewa … malu … dll … Lalu … langkah apa yang biasanya diambil pihak keluarga dalam upaya menyelesaikan perkara seperti itu … ?

Setahu saya … yang umum terjadi sesudah itu adalah … pihak keluarga akan menanyai anak gadisnya perihal siapa yang telah menghamilinya itu … Setelah ketahuan siapa yang menghamilinya … pihak keluarga akan berupaya untuk meminta pertanggung-jawaban dari orang yang menghamili anaknya itu … dengan memintanya atau memaksanya supaya mau menikahi anaknya itu … Bijaksanakah langkah seperti itu … ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut … ada pertanyaan lain yang perlu dijawab dengan jujur … yaitu … untuk kepentingan siapa sebenarnya hal itu dilakukan … ? … Kepentingan anak gadis yang dihamili itu … atau kepentingan keluarga besar … ? … Pihak keluarga bisa saja berdalih bahwa itu juga untuk kepentingan anaknya di masa depan … agar jelas statusnya … dan juga status anaknya … Mungkin saja itu benar … tapi kalau saya sih cenderung mengatakan bahwa itu lebih untuk kepentingan keluarga … yang pada dasarnya … sekedar untuk menutupi aib saja … dan bagi saya … itu sangat egois …

Apakah dengan menikahkan anak gadisnya dengan orang telah menghamilinya itu masalah pasti pasti beres … Mungkin dari sudut pandang keluarga … mungkin itu sudah beres … Tapi bagaimana dengan yang dihamili itu … ? … Saya justru sangat meragukannya …

Yang jelas … pernikahan seperti itu dilakukan dengan keterpaksaan … bukan dengan sukarela … Rasa keterpaksaan itu terutama ada di pihak orang yang menghamili itu … Dengan kondisi seperti itu … tentu wajar kalau saya meragukan kalau yang bersangkutan itu benar-benar mencintai korbannya … Jika dia benar-benar mencintai orang yang dihamilinya itu … tentu dia akan menghindari perbuatan yang akan merugikan anak gadis itu … dan kalaupun sampai terjadi ‘kecelakaan’ alias terjadi hubungan badan yang mengakibatkan kehamilan itu … tentu dia akan bertindak ‘gentlemen’ dengan berani datang sendiri tanpa perlu dipaksa untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya … Artinya … dia siap menjadi tameng bagi gadis yang dihamilinya itu …

Nah … jika sikap orang yang menghamili gadis itu yang menjadi indikatornya … maka rasa keterpaksaan orang itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak mencintai korbannya … Lantas … apa yang bisa diharapkan dari orang seperti itu … ? … Sekedar status dan untuk menutupi rasa malu … ? … Apa yang kira-kira bisa terjadi pada anak gadis yang dihamilinya dengan suami yang menikahinya karena terpaksa … ? … Sebetulnya … mana sih yang seharusnya lebih dipilih … kebahagiaan anak walau harus menanggung aib … atau aib tertutupi tanpa peduli walaupun ada kemungkinan si anak bakal menderita sepanjang usia pernikahannya … ?

Apalagi pernikahan yang melibatkan perempuan yang sedang dalam masa iddah itu dilarang dalam ajaran agama Islam … dan itu tercermin dalam ayat berikut … :

QS.2 :235
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan menikahi mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji nikah dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang maruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam harimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Dan perempuan yang hamil itu juga termasuk dalam golongan (yang dalam masa iddah) ini sesuai dengan ayat berikut … :

QS.65 :4
Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Untuk lebih jelasnya mengenai masalah ini … pembahasan bisa dilihat di : Hukum Nikah Dalam Keadaan Hamil

Jadi … jika saya ditempatkan dalam posisi seperti ini (meskipun faktanya saya tidak mempunyai anak perempuan) … Insya Allah saya akan lebih memilih untuk ikut menanggung aib itu daripada memaksa anak gadis saya menikah dengan orang yang tidak (dapat) saya percayai sebagai orang yang bertanggung-jawab … Akan saya rawat anak dan cucu saya dengan sebaik-baiknya … dan menganggap itu sebagai buah dari kegagalan saya dalam mendidik anak … semoga kejadian itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi saya dan seluruh keluarga saya … Apa sih artinya status atau sekedar menanggung aib dibanding kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita sendiri … ?

Dan jikapun ternyata orang yang menghamilinya itu termasuk orang yang bertanggung-jawab … maka (mengingat adanya hukum agama) pernikahan seperti itu juga tidak dapat dilaksanakan sampai dengan selesainya masa iddah … Dengan demikian … setidak-tidaknya kita tidak menambah dosa-dosa baru (yang berkaitan dengan masalah tersebut) karena melanggar larangan Allah hanya untuk menutupi aib keluarga di dalam pergaulan sosial …

2 comments

  1. Anda bisa nulis seperti itu krn anda tdk mengalami sendiri kejadiannya, beda bro teori dg kenyataan, shrnya orang yg tepat utk nulis spt itu adalah orang yg anak gadisnya pernah dihamili orang
    Kita hidup dlm lingkup sosial INGAT itu, walaupun stl menikahkan mereka, rasa malu itu tdk akan hilang, tp setidaknya utk kedepannya agak berkurang.
    Jadi mungkin judul artikel ini dirubah, “Teori sikap ortu jika anaknya dihamili sblm nikah”


  2. Iya pak … saya setuju bahwa teori memang jauh lebih mudah dibanding jika mengalaminya sendiri … Dan saya juga mengerti bahwa sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya … tidak bisa menutup mata dari penilaian orang lain terhadap diri dan keluarga kita …

    Dan di sini memang saya bicara dalam hal yang menurut saya lebih penting … ketika kita dihadapkan pada pilihan antara menerima rasa malu yang harus ditanggung dibandingkan dengan nasib anak yang dihamili itu nantinya plus adanya larangan dalam ajaran agama yang saya anut untuk menikahkan orang yang sedang dalam keadaan hamil … Dan itu adalah masalah pilihan dalam kondisi saya sedang bisa berpikir jernih … Makanya saya bukan mengatakan bahwa saya pasti akan berbuat seperti yang saya tulis … karena saya menyadari bahwa saya tidak mengalami hal seperti itu … Jadi saya memang baru bicara dalam hal normatif atau yang seharusnya saya lakukan … bukan yang pasti saya lakukan …



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: